Bela Kaum Uyghur, AS Berencana Boikot Olimpiade Musim Dingin Beijing 2022

Ilustrasi bendera Olimpiade. /Dok. olympic.org

  • Pemerintah Amerika Serikat mengusung gagasan untuk memboikot Olimpiade Musim Dingin Beijing 2022.
  • Hal tersebut dilanangkan sebagai bentuk protes atas penganiayaan yang dilakukan pemerintah China terhadap kaum Muslim Uyghur.
  • Tak hanya sendiri, AS juga mengajak beberapa negara lain untuk menyatakan sikap terkait tindakan persekusi China.

SKOR.id - Amerika Serikat berencana memboikot Olimpiade Musim Dingin Beijing 2022 sebagai bentuk protes dari persekusi pemerintah China terhadap Muslim Uyghur.

Sebagai salah satu negara yang telah lama berseberangan secara politik dengan China, Amerika Serikat memikirkan langkah baru untuk memberikan tekanan kepada Negeri Tirai Bambu.

Salah satu gagasan yang muncul adalah rencana memboikot pelaksanaan Olimpiade Musim Dingin 2022 yang rencananya digelar di Beijing pada 4-20 Februari 2022.

Kali ini, AS mengajak sekutunya untuk melakukan aksi ini bersama-sama untuk memberi efek jera kepada pemerintah China.

"Ini (boikot bersama) adalah sesuatu yang sedang kami diskusikan," ujar juru bicara kepresidenan AS, Ned Price, Selasa (6/4/2021).

"Pendekatan ini kami ambil tidak hanya untuk kepentingan kami, tapi juga untuk kepentingan sekutu kami."

"Jadi, ini adalah salah satu isu yang menjadi agenda kami bersama," katanya menambahkan.

 

Sosok presiden Amerika Serikat, Joe Biden.
Sosok presiden Amerika Serikat, Joe Biden. (INSTAGRAM/JOEBIDEN)

Dilansir dari Financial Times, Price mengatakan bahwa sampai saat ini belum ada pembahasan mendetail mengenai bagaimana aksi boikot tersebut akan dilakukan.

Namun, ia menilai harus ada tindakan tegas terhadap pemerintah China yang jelas-jelas melakukan pelanggaran HAM.

"Saat ini, kami belum menyatakan sikap terkait Olimpiade Beijing 2022," tulis Price di akun Twitter-nya.

Seperti diketahui, otoritas Negeri Tirai Bambu dianggap bertanggung jawab atas penganiayaan yang dilakukan kepada lebih dari satu juta Muslim Uyghur di Dataran Xinjiang.

Presiden AS, Joe Biden, bahkan menyebut tindakan pemerintah China ini sebagai pembantaian dan mencederai komitmen perlindungan HAM.

Namun, Komite Olimpiade dan Paralimpiade AS (USOPC) menilai boikot bukan tindakan yang tepat.

Mereka menganggap para atlet akan sangat dirugikan jika sikap tersebut diambil oleh pemerintah AS.

"Sejarah membuktikan bahwa boikot memberi dampak negatif buat para atlet," tulis pernyataan resmi USOPC.

"Menurut kami, jauh lebih baik jika pemerintah AS dan dunia lebih memilih pendekatan yang langsung menyasar isu geopolitik dan hak asasi manusia."

Adapun kali terakhir AS menyatakan boikot terhadap olimpiade adalah pada Olimpiade Moscow 1980.

Mereka memutuskan tidak mengirimkan atletnya ke Moscow setelah Uni Soviet bersikeras melancarkan invasi ke Afghanistan.

Ikuti juga InstagramFacebook, dan Twitter dari Skor Indonesia.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Skor Indonesia (@skorindonesia)

Berita olimpiade lainnya:

Olimpiade Tokyo Dihantam Badai Pembatalan Test Event

Korea Utara Dipastikan Tak Mengirim Atlet ke Olimpiade Tokyo

Pusarla Sindhu, Pebulu Tangkis Jagoan India untuk Olimpiade Tokyo

  • Sumber: Financial Times
  • X